Sejarah Bulutangkis dan Faktanya untuk Kesehatan


Siapa yang suka bermain bulutangkis? Olahraga yang selalu menjadi jagoan Indonesia untuk menorehkan prestasi di berbagai perhelatan besar, termasuk Asian Games 2018 ini, memang sangat menarik untuk dimainkan. Peralatannya yang cukup sederhana, membuat kamu mudah memainkannya di mana saja. Dan siapa tahu kalau rajin latihan, kamu juga bisa masuk sebagai salah satu anggota timnas bulutangkis kebanggaan Indonesia.

Tetapi, kamu tahu nggak, sih? Bulutangkis ternyata sudah berkembang sejak 200 tahun lalu di Mesir kuno, lho. Olahraga ini merupakan ‘cucu’ dari sebuah permainan Tionghoa yang disebut Jianzi. Permainan tersebut dimainkan menggunakan kaki dan bertujuan untuk mempertahankan bola selama mungkin, agar tidak menyentuh tanah.

Pada zaman pertengahan di Inggris, bulutangkis mulai dimainkan oleh anak-anak di sana dan dikenal dengan sebutan battledores atau shuttlecocks. Uniknya, raket yang digunakan terbuat dari tongkat atau dayung. Di tahun 1854, majalah Punch membuat kartun untuk mempublikasikan olahraga ini. Sejak itulah, permainan ini semakin sering dimainkan di jalanan di seputar kota London dan populer hingga ke Jepang, Tiongkok, serta Siam.

Nah, olahraga bulutangkis yang sesungguhnya ditemukan oleh petugas tentara Britania di Pune (sebelumnya dikenal dengan nama Poona-red), India. Saat itu, mereka menambahkan peralatan jaring atau net dan memainkan olahraga ini secara berlawanan. Di sana, bulutangkis pun sempat populer dengan sebutan Poona.

Pada tahun 1877, klub badminton di Ingggris yang bernama Bath, membuat rancangan peraturan permainan bulutangkis secara tertulis untuk pertama kalinya. Sementara, asosiasi bulutangkis di Inggris dibentuk pertama kali pada tahun 1893. Dan, kejuaraan All England yang merupakan kejuaraan internasional untuk bulutangkis pertama kali digelar pada tahun 1899.

Sangat Baik untuk Kesehatan

Bulutangkis termasuk salah satu olahraga tercepat. Kecepatannya bisa mencapai 400 km/jam. Wow! Selain itu, bermain bulutangkis selama 30 menit ternyata sama dengan berjalan sejauh 5 km, lho. Olahraga ini juga bisa membakar hingga 1000 kalori dalam tubuh per jamnya. Nah, buat kamu yang mau menurunkan berat badan, boleh banget nih mencoba olahraga bulutangkis. Tetapi, jangan terlalu diforsir ya! Jangan sampai kamu mau sehat, eh malah sakit karena olahraga berlebihan.

Bulutangkis juga merupakan jenis olahraga kardio. Sama seperti olahraga kardio lainnya, bulutangkis bisa meningkatkan denyut nadi, menurunkan hipertensi, dan membantu memperkuat kondisi jantung kamu. Olahraga ini pun masuk dalam kategori bone-loading sport atau baik untuk menjaga kepadatan tulang. Menurut para ahli, saat kamu memukul kok menggunakan raket dan melompat-lompat, kepadatan tulang akan meningkat secara alami.

Fakta menarik lainnya, penelitian menyebutkan bahwa bulutangkis merupakan olahraga yang sangat baik bagi otak. Saat bermain bulutangkis, kamu membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan saat itulah, otak terstimulasi dengan sangat baik. Selain itu, dibutuhkan juga ketepatan saat mengejar target, serta koordinasi mata dan tangan, yang kemudian memberikan dampak positif dalam meningkatkan kebugaran otak.

Hmm... Tidak heran ya, kalau anggota timnas bulutangkis Indonesia selalu tetap terlihat bugar, meski keringatnya bercucuran usai bertanding. Mudah-mudahan mereka pun bisa kembali mengukir prestasi di Asian Games 2018, seperti di Asian Games 2014 lalu di Incheon, Korea Selatan, ya! Semoga dari 2 medali emas yang diraih di Asian Games lalu bisa bertambah jumlahnya, mengingat Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Yuk, kita dukung mereka dengan sepenuh hati. Indonesia... dung... dung... dung... dung... tak!

 

Sumber : Asian Games 2018 ( https://id.asiangames2018.id/ )

KEMENKES QUOTES

Latest Videos

Latest News

Program

Photo Flickr